Total Pengunjung
Kamis, 31 Juli 2014
DUNIA BIDAN
3 tahun perjalanan
Membuat kita belajar, memahami dan berfilosofi
dengan sebuah profesi baru kita
Bidan . . . .
Perjuangan dari mengebut SKS yang terasa mustahil dilalui,
perjuangan dengan mencari terget partus di tengah kegelapan, perjuangan
menulis laporan diantara kesibukan pengabdian dan perjuangan untuk
konsul dengan seribu penantian hingga lupa jadwal makan
Tapi . . . .
Itu merupakan langkah awal teman-temanku
Dari apa sebenarnya makana kata “Bidan”
Jika anda bermimpi memilih profesi bidan sebagai
sarana cepat untuk “BALIK MODAL” anda salah besar ada di kebidanan
Seharusnya anda kuliah di PERBANKAN sehingga fasih akan urusan alur keuangan.
Merinci setiap materi yang dikeluarkan saat anda di pendidikan akan terbayar ketika anda menjadi bidan
Bidan bukan seperti itu saudaraku . . . . .
Ketika seorang ibu meratapi putrinya yang kontraksi di gubuk
tuanya, sang ibu kebingungan harus dengan apa membayar biaya persalinan
Sang bidan menepuk bahu sang ibu seraya berbisik “ saya akan membantu proses kelahiran putri ibu, ibu bantu dengan do’a saja “
Jika anda berpikir ada di kebidanan karena merupakan sebuah “POPULARITAS” diantara deretan pilihan fakultas lain yang ada
Anda salah besar ada di kebidanan
Seharusnya anda menjadi ARTIS, mengikuti berbagai casting sehingga anda akan muncul di berbagai media cetak dan elektronik
Bidan bukan seperti itu saudaraku . . . .. .
Ketika angka kematian bayi tinggi akibat Tetanus neonaturum, bidan
berjuang menggalakkan program imunisasi dengan tantangan masyarakat awam
yang menganggap pasca imunisasi membuat bayi rewel dan demam
Jika anda menganggap menjadi bidan sebagai ajang menaikkan “NILAI
JUAL” untuk menjadi lirikan calon mertua atau harapan bagi pemuda
dokter, polisi, angkatan atau sederet profesi tinggi lainnya
Anda salah besar saudaraku . . . . .
Tidak ada artinya nilai jual itu ketika kita menghadapi seorang
wanita yang mengalami Atonia uteri, kita bersimbah dengan darah,
meneteskan bulir-bulir keringat serasa seluruh raga ikut berdo’a hanya
untuk memperjuangkan wanita itu masih memiliki nyawa
Ketika sang bayi yang lahir dari wanita yang bukan apa-apa kita
menatap dunia dengan wajah birunya seakan mulutnya pun enggan menyapa
atau sekedar menangis layaknya bayi lainnya.
Kita akan berusaha mencoba sebisa kita membantu sang bayi mendapatkan dunia barunya
Dan . . . . .
Jika anda menginginkan profesi bidan agar para tetangga memanggil
anda dengan sebutan “ Bu Bidan “ dengan terbungkuk-bungkuk melewati anda
yang necis berpakaian putih-putih turun dari Avansa, Inova atau sederet
mobil bermerk lainnya, anda salah besar saudaraku . . . .
Bidan bukan seperti itu saudaraku . . . .
Di malam saat terlelap di peraduan setelah seharian berkutat dengan
PWS, Kohort dan seribu laporan lainnya. Tiba-tiba ada yang mengetuk
pintu rumah kita. Seorang ibu yang merintih memegangi perutnya ditemani
sang suami yang setia bergumam lirih “ bu bidan tolong saya,
rasa-rasanya saya ingin melahirkan”
Tangannya yang mungil menunjukkan buku KIA dan sebuah kartu JAMPERSAL
Ketika sales susu formula datang dengan sekeranjang produk
terbarunya serta sejuta janji mobil Xenia, ibadah umroh dan tawaran
manis lainnya
Seorang bidan akan berkata “ maafkan saya mbak, saya tidak bisa
mendustai hati seorang wanita yang secara kodratnya harus menyusui dan
selalu memberikan yang terbaik terhadap bayi mereka”
Ketika seorang wanita separuh baya membawa lima orang anaknya yang
kecil-kecil menangis di hadapan kita meminta kita menggugurkan
kandungannya karena dirinya lupa untuk minum pil KB berapa hari lamanya
Bidan akan berkata “Maafkan saya ibu, saya bukan malaikat pencabut
nyawa atas janin yang telah Tuhan titipkan dalam rahim ibu yang ibu
sendiri tidak tahu kebaktian dan kebahagiaan apa yang bisa diberikan
oleh calon manusia ini nantinya”
Bidan itu mulia saudaraku . . . . .
Biarlah mereka berpikir apa tentang profesi kita karena mereka awam untuk mengerti hakekat profesi kita
Dikala kewenangan semakin dibatasi, kesalahan selalu dicari, kita seharusnya tak berkecil hati
Suatu PERMATA mulia tetap terlihat cahayanya saudaraku . . .
Walaupun ia terpendam jauh di kubangan lumpur
Kita tidak perlu CENDERAMATA . . . .
Kita tidak perlu sanjungan asa . . . .
Yang kita lakukan hanya keikhlasan
Di saat nafas telah diberhentikan olehNya dan suatu profesi itu pun telah tiada
Semoga Tuhan mengutus malaikatNya
Menulis nama BIDAN di dalam surgaNya
Yang jauh lebih sempurna dibandingkan penghargaan yang pernah ada.:)
_______________________________________
Langganan:
Komentar (Atom)